cari

Dampak Tawuran Terhadap Masa Depan Pelajar



Baca atau Download disini




                                                 KATA PENGANTAR

Terucap syukur kepada Allah SWT. atas rahmat, karunia, serta petunjukNya sehingga penulis diberi kekuatan dan kesabaran dalam menyelesaikan penyusunan karya tulis ini dengan sebaik-baiknya.
Semoga penulisan karya tulis ini bisa membawa berkah dan ridho dari Allah SWT bagi penulis dalam rentang perjalanan hidup penulis berikutnya, amiin. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih dengan sedalam-dalamnya kepada Bapak dan Ibu saya sebagai manusia mulia pertama yang selalu mendukung dengan mendoakan yang terbaik untuk penulis dan memberikan support financial sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah penelitian ini tepat waktu. Serta kakak-kakakku tercinta, semoga penulis bisa mewujudkan harapan kalian, amiin. Selain itu tidak lupa juga penullis ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu.
Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik, atas kebaikan yang diberikan pada penulis. Kritik dan saran penulis harapkan dari semua pihak demi tercapainya manfaat karya tulis ini.


Penulis















BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Loyalitas terhadap persahabatan sering kali melahirkan solidaritas sempi apalgi dikalang pemuda lebih-lebih pelajar dan remaja. Seolah-olah nurani tidak lagi diyakini oleh para remaja, lebih-lebih apabila melihat banyaknya tawuran pelajar akhir-akhir ini. Dengan garangnya api kebencian merasuki pelajar seperti mafia hendak menunjukkan keperkasaannya. Kekerasan dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan suatu masalah tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan.
Masyarakat yang peduli terhadap lingkungan remaja menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan mereka. Masyarakat sering tidak peka terhadap respon yang di timbulkan remaja. Sehingga tidak sedikit remaja mengalami semacam gejolak jiwa yang berupa agresi guna menunjukkan keberdaan mereka dalam suatu lingkungan.
Hal itu menimbulkan gejolak jiwa berupa kepenatan yang berubah menjadi gundukan stress dan mencari sebuah pelampiasan. Hal tersebut seringkali tersalurkan dalam perbuatan negatif, berkumpul dengan sekelompok preman dan secara tidak langsung menjadi bagian dari mereka. Atas dasar persamaan identitas tertentu mereka membentuk dengan solidaritas sempit, yang mengajari mereka untuk saling rasa saling bantu termasuk dalam hal kekerasan tanpa menilai bear dan salah. Hal ini menarik bagi penulis untuk menyusun karaya tulis ilmiah dengan judul: “Dampak Tawuran Terhadap Masa Depan Pelajar”.
     
1.2  Rumusan Masalah
Agar penelitian ini terarah dan mengingat luasnya permasalahan tersebut, maka masalah pokok tersebut peneliti batasi dalam rumusan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.      Apa saja faktor yang menyebabkan?
2.      Apa Dampak negatif dari tawuran tersebut terutama bagi pelaku dan masyarakat sekitar ?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas  penyusunan karya tulis ini bertujuan sebagai berikut:
1.      Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tawuran antar pelajar?
2.      Menjelaskan Dampak negatif dari tawuran tersebut terutama bagi pelaku dan masyarakat sekitar.
3.      Menjelaskan upaya untuk menanggulangi tawuran pelajar tersebut ?




1.4 Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian penulis mempergunakan metode kepustakaan atau literatur. Yaitu metode penelitian dengan cara mengumpulkan data yang bersumber dari media buku, Koran, artikel dan situs atau web internet.



















BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Definisi Tawuran
Untuk lebih memahami pengertian tawuran, secara lebih luas dan terperinci maka penulis memberikan beberapa definisi tawuran dari beberapa sumber, sebagai berikut:
1.      Menurut kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar.
2.      Menurut Wikipedia Tawuran atau Tubir adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok. Tawuran merupakan suatu penyimpangan sosial berupa perkelahian
3.      Pengertian tawuran menurut penulis. Dari kedua pengertian diatas maka penulis menyimpulkan arti tawuran menjadi, tawuran adalah perkelahian  yang melibatkan sejumlah besar orang dalam satu kelompok rumpun, dengan kelompok rumpun lain, atas sebab solidaritas sempit untuk membela satu golongan, kelompok, rumpun sosial.
2.2  Pandangan Hukum Terhadap Tawuran
Ternyata tawuran antar pelajar di Indonesia sudah berlangsung selama hampir tiga dekade dan tawuran menurut kacamata Winarini Wilman merupakan manifestasi dari perilaku kelompok Pandangan ini tentu saja bisa dibenarkan jika dilihat dari optik psikologi, namun pandangan psikologi ini tidak memberikan jalan keluar yang konkrit untuk penyelesaian tawuran, karena manifestasi kelompok sebagai pemicu tawuran bentuknya sangat abstrak dan tidak bisa diselesaikan dalam periode waktu tertentu yang terukur.
Melihat tawuran sepatutnya harus dikaitkan dengan pelangggaran norma hukum yang hidup di dalam masyarakat. Masyarakat menginginkan terjadinya ketertiban antar individu maupun antar kelompok. Tawuran yang berlangsung selama puluhan tahun tidak akan memujudkan keteraturan yang didambakan masyarakat dan bahkan masyarakat senantiasa dihantui rasa takut atas tawuran yang dapat berlangsung setiap saat. Penyelenggara negara termasuk penegak hukum tidak mampu mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas. Tanggung jawab negara dituntut untuk menciptakan keajegan yang sesungguhnya dan menyelamatkan generasi muda ini.
Dalam kasus tawuran, yang terlihat lebih kental adalah penyimpangan norma hukum. Penyimpangan norma hukum (deviant) yang dilakukan secara massal oleh sekelompok siswa dipicu oleh banyak faktor, tidak hanya karena faktor historis dan diturunkan pada generasi berikutnya, atau juga karena sentimen kelompok yang merasa lebih powerfull dibandingkan kelompok lain. Perilaku deviant ini merupakan bagian dari perbuatan melanggar norma hukum, hanya saja kadar dan tingkatannya masih bisa ditolerir sehingga alat-alat penegak hukum tidak secara kaku menerapkan sanksi hukum yang berlaku, namun masih bisa dilakukan upaya “diskresi” atau penyimpangan dari prosedur hukum formal yang baku.
Pelajar yang melakukan perilaku deviant tidak mengetahui konsekuensi jangka panjang ketika dia melakukan perbuatan tersebut. Karena siswa dianggap tidak mengetahui resiko jangka panjangnya, maka intervensi hukum pun menjadi “minimalis” artinya langkah-langkah hukum normal yang harus dilakukan atas peristiwa pidana menjadi alternatif terakhir selagi bisa ditemukan alternatif lain yang bisa melindungi kepentingan terbaik pelajar dan kepentingan masyarakat yang dirugikan. Hanya saja dalam tawuran yang berlangsung selama ini, tidak juga ditemukan alternatif terbaik dalam menyelesaikannya sehingga peristiwa ini berlangsung terus menerus hingga sekarang.










BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Faktor-Faktor Penyebab Tawuran Pelajar
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
1.      Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang sekelilingnya. Di antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan. Kalau enggak tawuran, enggak jantan, enggak keren, enggak mengikutiperkembangan zaman, atau banyak lagi anggapan lain.
Dalam studinya tentang kekerasan, Foucault, seorang psikolog sosial, menyatakan bahwa kekerasan adalah buah dari simbolisasi perlawanan akan bentukan emosi yang menekan manusia secara eksistensial. Disisi yang lain, Eric Fromm menyatakan bahwa kekerasan adalah wujud dari ketakutan dan keterancaman. Dari dua teori diatas, kita tentu memahami mengapa pelajar melakukan kekerasan. Sebagai manusia remaja, pelajar, dalam pengalaman keseharian mereka, merasakan bentukan hegemoni dari orang yang lebih dewasa (orang tua, guru dan sekolah itu sendiri) melalui aturan normative yang membelit kebebasan mereka. Mereka lebih sering dituntut untuk memahami segala bentuk tatanan yang sifatnya baru bagi mereka daripada diberikan kebebasan untuk berpikir kritis atas tatanan-tatanan tersebut. Mereka merasakan sebuah keterancaman eksistensial dimana keberadaan mereka tidak terlalu diakui sebagai selayaknya manusia yang setara. Mereka adalah gudang kesalahan yang setiap hari selalu diposisikan sebagai sosok yang tidak pernah benar di mata orang dewasa.
Mereka berkelompok karena mereka merasakan sebuah perasaan senasib. Perasaan senasib tersebut menimbulkan sebuah solidaritas masal yang sifatnya fanatis dan simbolik. Mereka yang tidak bisa memenuhi tuntutan solidaritas tidak akan terekrut dalam kelompok-kelompok yang ada. Disinilah mereka harus menunjukan jati diri eksistensi mereka. Minuman keras, narkoba, dan perkelahian bukan sekedar eksperimentasi mereka sebagai remaja melainkan juga menjadi semacam metode simbolik untuk bisa diterima oleh kelompok-kelompok yang ada. Tanpa kelompok-kelompok itu, mereka akan mengalami perasaan kesepian yang mendalam karena teralienasi baik oleh kelompok manusia dewasa maupun seusia mereka.

2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :
a.       Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan  yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
 Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu   penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku baik.

b.      Faktor Sekolah
Dalam beberapa diskusi atau tulisan yang dimuat di media masa, beberapa ahli atau penggiat pendidikan sering mengopinikan adanya kebutuhan akan kegiatan-kegiatan positif yang mampu mewadahi kreativitas dan dinamisasi kehidupan remaja dalam rangka mengurangi angka terjadinya tawuran antar siswa baik di tingkat SMP atau SMU. Kegiatan-kegiatan positif bisa dibentukan dalam aktivitas persahabatan antar sekolah yang lebih menitikberatkan kepada persoalan-persoalan ilmiah. Dari kegiatan tersebut akan muncul sebuah keakraban universal diantara mereka para pelajar.
Sekolah tidak hanya untuk menjadikan  para siswa pandai secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya  disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.
          Menjadi guru lebih mudah ketimbang menjadi sahabat mereka. Pelajar membutuhkan perasaan diterima dan diakui sebagai manusia yang berkedudukan setara dengan siapapun juga. Mereka muak untuk dipaksa memahami tanpa memiliki kesempatan untuk dipahami. Perilaku mereka adalah sebuah kompensasi atas perasaan teralienasi dalam dunia belajar mengajar. Satu satu solusi jangka panjang yang mungkin dilakukan adalah merubah paradigma guru. Guru sebaiknya memahami mereka sebagai remaja yang lahir dari kultur keluarga, masyarakat dan pribadi yang berbeda. Kultur remaja memiliki belief dan values sendiri yang tidak bisa ditekan untuk menerima kultur dewasa yang universal. Menekan mereka hanya akan membentuk bangunan hegemoni kepada mereka yang terkompensasi dalam perilaku destruktif mereka sebagai sebuah simbol perlawanan eksistensial demi mendapatkan pengakuan
3.      Faktor Lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.
Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang Kompas, bulan lalu, mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah terjadi selama puluhan tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi dari siswa senior kepada yuniornya.
Tawuran lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut, tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.
Dalam penelitian untuk disertasi berjudul ”Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High School Students in Jakarta”, tahun 1996-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis) yang terdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basis itu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutan mereka

3.2   Dampak Tawuran Terhadap Pelajar
Dampak tawuran terhadap pelajar sangatlah kompleks, berdasarkan literature yang berhasil dikumpulkan penulis maka didapat dampak berikut ini yang paling sering menjadi dampak dari tawuran antar pelajar:

a.       Kerugian fisik
Pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu   cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematiaan. Pada korban cidera berat yang mengalami kehilangan atau disfungsi bagian tubuhnya tentu akan melahirkan penyesalan mendalam, karena kerugian ini tidaklah sementara melainkan akan dibawa seumur hidupnya, sehingga tentu saja ini bisa menghanjurkan cita-cta dan masa depannya.
b.      Kerugian Psikologis
Dampak Psikologis. Dampak psikologis meliputi frustrasi dan stres.  Frustrasi. “Frustrasi adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disebabkan tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan karena adanya halangan atau rintangan untuk mencapai kepuasan atau tujuan tersebut” (Fauzi, 2004, h. 62). Frustrasi dapat dialami oleh para korban tawuran karena mereka tidak dapat mencapai tujuan yang mereka inginkan yang disebabkan karena rasa takut akibat aksi tawuran.
Stres. “Stres dirumuskan sebagai setiap tekanan, ketegangan yang mempengaruhi seseorang dalam kehidupan, pengaruhnya bisa bersifat wajar ataupun tidak, tergantung dari reaksinya terhadap ketegangan tersebut”  (Gunarsa & Gunarsa, 2004, h. 263). Stres yang terlalu berat dapat mengganggu kondisi mental pelaku tawuran sehingga pelaku tawuran tidak mampu menjalani aktifitasnya seperti biasa. Hal ini terjadi karena apa perasaan bahwa masih ada ancaman yang terus mengintai kehidupan mereka.

c.       Terganggunya proses belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar tentu akan terjadi apabila terjadi sebuah tawuran pelajar antar sekolah karena banyak siswa yang terlibat tawuran masih menyimpan dendam dan saling menebar ketakutan bagi pelajar lain yang tidak ingin terlibat. Sementara guru dan pengurus sekolah masih harus disibukan untuk mencari solusi perdamaian.
d.      Menurunnya moralitas para pelajar
Karena jiwa muda yang merasa lebih kuat dan selalu benar, pelajar yang suka terlibat tawuran lebih suka tampil beringas dan berlaku amoral. Hal ini bertujuan untuk menunjukan menarik perhatian lingkuang dalam aktualisasi yang tidak benar.
e.       Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai
Tentu setelah terjadinya sebuah tawuran antar pelajar hanyalah sebuah dendam, kebencian dan menyalahkan pihak lawan. Oleh karenanya perasaan untuk bertoleransi, tengang rasa dan saling menghargai akan luntur diantara para pelajar.
f.       Masyarakat sekitar juga dirugikan.
Masyarakat tempat terjadinya tawuran pun ikut merasakan kerugian akibat tawuran ini, misak rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga, ikut terluka karena berada dilokasi tawuran. Serta gangguan keamanan karena akan memicu tawuran berikutnya.
3.3  Langkah-Langkah Untuk Menghindari Tawuran Pelajar
 Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tawuran pelajar diantaranya sebagai berikut:
1.      Membangun hubungan yang baik antar anggota keluarga. Hal ini bertujuan agar anak tidak merasa tidak dipedulikan oleh keluarganya. Membangun sebuah hubungan yang baik dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Makan malam bersama. Makan malam bersama dapat menjadi alternatif lain dalam berkomunikasi. Para orang tua dapat bertanya mengenai kegiatan yang dilakukan oleh anak selama satu hari sehingga kegiatan anak selama satu hari dapat terpantau oleh orang tua
2.      Melakukan kegiatan yang yang mengajarkan untuk melkukan hal positif prestasi, toleransi dan saling mengenal seperti: mengadakan lomba kopetisi olahraga, sains, kesenian antar sekolah yang dikelola bersama.     
3.      Melakukan penanaman nilai kesabaran, serta menghormati orang lain melalui kegiatan keagamaan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berdoa atau melakukan renungan harian bersama di rumah dan pergi ke tempat beribadah bersama. Melalui cara ini diharapkan anak menjadi punya iman yang kuat sehingga dapat menolak ajakan temannya untuk ikut aksi tawuran. Dengan mendekatkan diri pada Tuhan juga dapat membantu anak untuk lebih cerdas dalam memilih pergaulan yang baik dan yang buruk



BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal berikut:
1.      perilaku menyimpang pelajar seperti tawuran adalah kenakalan pelajar yang biasanya dilakukan oleh pelajar-pelajar yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun masa kanak-kanaknya, didukung keadaan lingkungan, keluarga dan sekolah serta pemahaman solidaritas sempit sehingga akan membela rekan, atau anggota kelompok tanpa memperhitungkan aspek benar salah.
2.      Tawuran sangat berpengaruh pada masa depan pelaku maupun masyarakat. Terlebih kepada korban tawuran yang mungkin mengalami disfungsi organ tubuhnya. Segala cita-cita akan hilang dan masa depan menjadi suram. Para pelaku yang tidak ingin merubah diri akan jatuh dalam ego tinggi yang tidak bisa memahami orang lain sehingga sulit untuk mengembangkan diri.

4.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang didapat maka penulis memberikan beberapa saran berikut:
1.      Hendaknya orangtua dapat lebih membagun keharmonisan komunikasi dengan anak, serta dapat memperhatikan secara lebih dekat tumbuh kembang anak serta mangarahkan anak untuk melakukan kegiatan positif.
2.      Sejak sekarang masyarakat harus sadar akan pentingnya peran mereka dalam membentuk lingkungan yang kondusif. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidik seharusnya memperhatikan potensi-potensi dasar peserta didik untuk lebih meningkatkan daya kreativitas mereka. Memfasilitasi para pelajar baik dilingkungan rumah atau sekolah untuk melakukan kegiata-kegiatan yang bermanfaat diwaktu luangnya. Contohnya dengan membentuk ikatan remaja masjid atau karang taruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, dan sekolah mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstra kurikuler di sekolahnya.
















DAFTAR PUSTAKA

Q-Anees, B. Hambali, A. (2008). Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran. Bandung: Reflika Offset.
Megawangi, Ratna. (2007). Pendidikan Karakter. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation.
Albertus, Doni Koesoema. (2010). Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, ed. Revisi. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Tidak ada komentar: